Rabu, 27 Agustus 2025

Sirep Sang Rahsa Sukma


Oleh: Mata Langit


Ada yang hilang dari tubuhku,

seperti angin dicabut dari sayap,

seperti cahaya dipisahkan dari matahari,

tubuh ini tinggal daging yang bisu.


Kulit yang kosong, nama yang menggantung,

tanpa pemilik, tanpa penjelasan,

maka aku mencari di hutan kabut leluhur,

di sungai yang menyimpan gema seribu arwah.


Di cermin yang retaknya memantulkan wajah tanpa rupa,

kudengar bisikan para penunggu:

"Sukmo sing pisah, angel bali…",

sukma yang lepas tak mudah kembali.


Ia berjalan di jalan cahaya,

di mana waktu bukan hitungan,

di mana langkah bukan tapak,

di mana suara hanyalah gema.


Namun aku tidak gentar.

Dengan darahku kutulis mantra di tanah,

dengan air mataku kurendam doa di bara,

dengan napasku kubangun jembatan.


Antara tubuh yang menunggu dan sukmo yang terlunta,

di ambang rahasia yang rapuh dan samar.

"Sukmaku… bali marang papanmu.

Kawula nyuwun kawelasan."


"Nyuwun pituduh saka jagad wening.

Sukmo, aja nganti suwung,

aja nganti ilang ing pepeteng,

aja nganti ilang ing pepeteng."


Aku panggil engkau wahai sukmo,

yang pernah bernyanyi dalam dadaku,

yang pernah membuat mataku bercahaya,

yang memahat arti pada setiap denyut.


Kembalilah sebelum tubuh ini jadi guci pecah,

ditinggalkan waktu tanpa sisa,

sebelum nama ini jadi debu,

sebelum ingatan ini jadi batu tanpa cerita.


Aku ingat saat engkau meninggalkan,

di antara teriakan malam yang padat,

engkau melayang bagai kunang-kunang,

terjebak di pusaran gelap.


Aku berlari namun tubuhku tertinggal,

aku berteriak namun suaraku pecah,

pecah di dada sendiri,

pecah dalam sunyi yang menutupku.


Kini aku berdiri di persimpangan dunia,

antara doa dan kutukan,

antara tanah dan bintang,

antara hidup dan mati yang belum selesai.


Jika engkau dengar suaraku,

dengarkanlah dengan hati yang pernah kita bagi.

Jika engkau melihat bayangku,

tataplah dengan mata yang pernah menatap dunia.


Jika engkau masih mengenali darah ini,

maka masuklah kembali ke tubuh ini,

sebab tubuh ini hanya rumah yang roboh,

sebab tubuh ini hampa tanpamu.


"Sira sukmo, bali marang awakmu.

Sira sukmo, bali marang rahsa.

Ing jeneng cahya, ing jeneng jagad,

kula narik, kula nyuwun."


"Kula dados lawang pambuka,

kula dados pangeling dalan.

Sukmo, wangsulana panggilan iki,

bali marang rahim cahya sejati."


Wahai sukmo, aku persembahkan kata sebagai tali,

aku persembahkan luka sebagai jalan,

aku persembahkan seluruh hidupku sebagai pelita,

kembalilah, dan biarkan aku menjadi pintu terbuka.


Sebab aku tahu engkau bukan sekadar roh,

engkau adalah sejarah yang menyalakan langkahku,

engkau adalah nyala yang mengikat tubuh pada makna,

engkau adalah inti yang membuat dunia bernyawa.


Maka biarlah malam ini segala mantra jadi jembatan,

segala doa jadi sayap, segala luka jadi cahaya,

datanglah wahai sukmo, datanglah kembali,

sebelum dunia ini menutupku dengan sunyi abadi.


"Sukmo kawelasan, Sukmo pangruwating,

bali, bali, bali—

marang papan sejati,

marang pangkuan cahya sejati."


Narik Sukmo.

Mantra terakhir, panggilan pertama.

Sebuah perjalanan pulang,

dari ketiadaan menuju kehadiran.


Dari kehilangan menuju kesatuan,

dari sunyi menuju keutuhan,

dan jika engkau kembali,

maka aku pun lahir sekali lagi.


Kediri, 26 Juni 2025

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...