Senin, 04 Agustus 2025

MASKUMAMBANG

 ‎

‎Cipayung Jaya, 4 april 2006

‎W.S. RENDRA

‎Kabut fajar menyusut dengan perlahan.

‎Bunga bintaro berguguran

‎di halaman perpustakaan.

‎Di tepi kolam,

‎di dekat rumpun keladi,

‎aku duduk di atas batu,

‎melelehkan air mata.

‎Cucu-cucuku!

‎Zaman macam apa, peradaban macam apa,

‎yang akan kami wariskan kepada kalian!

‎Jiwaku menyanyikan tembang maskumambang.

‎Kami adalah angkatan pongah.

‎Besar pasak dari tiang.

‎Kami tidak mampu membuat rencana

‎manghadapi masa depan.

‎Karena kami tidak menguasai ilmu

‎untuk membaca tata buku masa lalu,

‎dan tidak menguasai ilmu

‎untuk membaca tata buku masa kini,

‎maka rencana masa depan

‎hanyalah spekulasi keinginan

‎dan angan-angan.

‎Cucu-cucuku!

‎Negara terlanda gelombang zaman edan.

‎Cita-cita kebajikan terhempas waktu,

‎lesu dipangku batu.

‎Tetapi aku keras bertahan

‎mendekap akal sehat dan suara jiwa,

‎biarpun tercampak di selokan zaman.

‎Bangsa kita kini seperti dadu

‎terperangkap di dalam kaleng utang,

‎yang dikocok-kocok oleh bangsa adikuasa,

‎tanpa kita berdaya melawannya.

‎Semuanya terjadi atas nama pembangungan,

‎yang mencontoh tatanan pembangunan

‎di zaman penjajahan.

‎Tatanan kenegaraan,

‎dan tatanan hukum,

‎juga mencontoh tatanan penjajahan.

‎Menyebabkan rakyat dan hukum

‎hadir tanpa kedaulatan.

‎Yang sah berdaulat

‎hanyalah pemerintah dan partai politik.

‎O, comberan peradaban!

‎O, martabat bangsa yang kini compang-camping!

‎Negara gaduh.

‎Bangsa rapuh.

‎Kekuasaan kekerasan merajalela.

‎Pasar dibakar.

‎Kampung dibakar.

‎Gubuk-gubuk gelandangan dibongkar.

‎Tanpa ada gantinya.

‎Semua atas nama takhayul pembangunan.

‎Restoran dibakar.

‎Toko dibakar.

‎Gereja dibakar.

‎Atas nama semangat agama yang berkobar.

‎Apabila agama menjadi lencana politik,

‎maka erosi agama pasti terjadi!

‎Karena politik tidak punya kepala.

‎Tidak punya telinga. Tidak punya hati.

‎Politik hanya mengenal kalah dan menang.

‎Kawan dan lawan.

‎Peradaban yang dangkal.

‎Meskipun hidup berbangsa perlu politik,

‎tetapi politik tidak boleh menjamah

‎ruang iman dan akal

‎di dalam daulat manusia!

‎Namun daulat manusia

‎dalam kewajaran hidup bersama di dunia,

‎harus menjaga daulat hukum alam,

‎daulat hukum masyarakat,

‎dan daulat hukum akal sehat.

‎Matahari yang merayap naik dari ufuk timur

‎telah melampaui pohon jinjing.

‎Udara yang ramah menyapa tubuhku.

‎Menyebar bau bawang goreng yang digoreng di dapur.

‎Berdengung sepasang kumbang

‎yang bersenggama di udara.

‎Mas Willy! istriku datang menyapaku.

‎Ia melihat pipiku basah oleh air mata.

‎Aku bangkit hendak berkata.

‎Sssh, diam! bisik istriku,

‎Jangan menangis. Tulis sajak.

‎Jangan bicara.

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...