Sitor Situmorang
Telah berlaku agaknya Hukum leluhur, tapi Janganlah beri nama nanti Pahlawanku mati apa
Di akhir kisah.
Dengarlah
Cerita orang tua-tua Kusampaikan pada pembaca
Di seluruh negeri ia terkenal Juara Judi tak ada bandingannya Selalu menang dan Dimenangkan
Segala ucapannya Tak ada yang berani
Tiada yang mau membantah Terlebih ketika minum arak Di kedai-kedai
Selain Juara Judi Ia pemburu pula
Kalau bukan harimau,
Babi atau rusalah mangsanya
Ulung dalam tari
Membuat ukiran indah sekali Serta memetik kecapi ....
Dan bila marah berbahaya serapahnya
Tapi dari segala korban Isterinya yang paling menderita
Dua anaknya
Satunya putera satunya puteri Tapi tak satu jadi kesukaannya Kata orang, "Mana 'kan pula,
Anak lahir, bapaknya di tempat judi."
Tibalah saat puteranya akan dikawinkan Halnya dirundingkan
Si putera: Aku masih terlalu muda.
Si Bapak: Kawinlah sesukami, asal jangan perempuan buta.
Si Ibu: Kawinlah, Nak, baik ada temanku.
Adik perempuannya
Tak sepatah pun berkata.
Hatinya terbelah antara Ibu penyabar Dan si Bapak yang kejam
Namun dicintai sepenuhnya hati.
Si putera akhirnya kawin dengan gadis pilihan ibunya
Si Bapak mendongkol sejak semula Karena bukan pilihannya
Tahun berganti tahun Musim berganti musim Juara Judi semakin tua Puterinya pun dewasa namun tak kunjung jodoh
Pula menantu ternyata mandul Cucu diharap tak juga datang.
"Mana hanya satu anak laki
Menantu pilihan ibunya ternyata ladang mati Mampus kau semua."
Demikian kutuk Juara
Di saat pulang dari gelanggang judi.
Puteranya tak peduli Putuskan pergi merantau bersama isteri
Berkata pada ibunya; "Tak akan aku pulang Jangan aku ditunggu Atau Bapak mati dulu."
Tinggallah ibunya sendirian ditemani adiknya
Tak ada yang meminangnya Orang takut menghadapi bapaknya
Yang kini jarang kembali
asyik berburu di hutan berhari-hari Menghindar gelannggang judi diburu kenangan pada putera satunya di rantau jauh
Di desa suatu ketika Sampai kabar
Menantu mandul meninggal di rantau
Si Ibu yang menerima kabar Menghempas badan ke lantai: "Demikianlah nasibku Kelahiranku yang kasip Ditinggalkan orang hidup Ditinggalkan orang mati."
Puterinya yang diam di sampingnya merasa sebatang kara
Juara lama tak pulang-pulang Pindah ke desa lain
Kawin lagi
Harapkan anak laki pengganti Penyambung keturunan Sebelum ia mati
Juara mendapat tiga anak Dari isteri barunya Semua perempuan
Tak ada laki
Suatu hari
ketika sakit berat Pawang yang diundang berkata:
"Adakan pesta korban Undang isteri pertama begitu pula puterinya
Mintalah pengampunan mereka demi leluhur."
Dengan berat hati Juara kirim pesan
Agar isteri dan puterinya datang
Lalu ia menanti
Pesuruh pun pulang Bawa berita meragukan:
Hati Juara dirundung bimbang Isteri dan puteri
Mungkin datang, mungkin tidak dan biar lupa gundahnya
Juara pergi berburu di hari anak-isterinya dikabarkan tiba
Ia berburu di lereng gunung di hutan di luar desa
Sepanjang hari sampai sorenya
Menjelang malam
Di kampung ternyata anak-isterinya tiba Tapi Juara tak tahu
asyik berburu rusa
Malamnya ia digotong berlumuran darah
Katanya diterkam harimau "Tak dapat lagi ditolong
Ajal menuntut sudah" - kata orang desa Lalu ia dibaringkan
di tengah rumahnya dulu
di mana anak isterinya telah menunggu
Yang menyambutnya dengan lagu ratap: "Kembali sudah, kembali juara
Juaraku pulang dari berburu rusa "
Pahlawan kita lalu mati
di pangkuan isteri yang ditinggalkan
Demikianlah desa kami kehilangan pahlawannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar