Selasa, 26 Agustus 2025

Matinya Juara Judi Karya

  Sitor Situmorang


Telah berlaku agaknya Hukum leluhur, tapi Janganlah beri nama nanti Pahlawanku mati apa

Di akhir kisah.


Dengarlah

Cerita orang tua-tua Kusampaikan pada pembaca


Di seluruh negeri ia terkenal Juara Judi tak ada bandingannya Selalu menang dan Dimenangkan

Segala ucapannya Tak ada yang berani

Tiada yang mau membantah Terlebih ketika minum arak Di kedai-kedai


Selain Juara Judi Ia pemburu pula

Kalau bukan harimau,

Babi atau rusalah mangsanya


Ulung dalam tari

Membuat ukiran indah sekali Serta memetik kecapi ....


Dan bila marah berbahaya serapahnya

 

Tapi dari segala korban Isterinya yang paling menderita


Dua anaknya

Satunya putera satunya puteri Tapi tak satu jadi kesukaannya Kata orang, "Mana 'kan pula,

Anak lahir, bapaknya di tempat judi."


Tibalah saat puteranya akan dikawinkan Halnya dirundingkan

Si putera: Aku masih terlalu muda.

Si Bapak: Kawinlah sesukami, asal jangan perempuan buta.

Si Ibu: Kawinlah, Nak, baik ada temanku.


Adik perempuannya

Tak sepatah pun berkata.

Hatinya terbelah antara Ibu penyabar Dan si Bapak yang kejam

Namun dicintai sepenuhnya hati.


Si putera akhirnya kawin dengan gadis pilihan ibunya

Si Bapak mendongkol sejak semula Karena bukan pilihannya


Tahun berganti tahun Musim berganti musim Juara Judi semakin tua Puterinya pun dewasa namun tak kunjung jodoh

Pula menantu ternyata mandul Cucu diharap tak juga datang.


"Mana hanya satu anak laki

Menantu pilihan ibunya ternyata ladang mati Mampus kau semua."

Demikian kutuk Juara

Di saat pulang dari gelanggang judi.


Puteranya tak peduli Putuskan pergi merantau bersama isteri


Berkata pada ibunya; "Tak akan aku pulang Jangan aku ditunggu Atau Bapak mati dulu."

 

Tinggallah ibunya sendirian ditemani adiknya

Tak ada yang meminangnya Orang takut menghadapi bapaknya


Yang kini jarang kembali

asyik berburu di hutan berhari-hari Menghindar gelannggang judi diburu kenangan pada putera satunya di rantau jauh


Di desa suatu ketika Sampai kabar

Menantu mandul meninggal di rantau


Si Ibu yang menerima kabar Menghempas badan ke lantai: "Demikianlah nasibku Kelahiranku yang kasip Ditinggalkan orang hidup Ditinggalkan orang mati."


Puterinya yang diam di sampingnya merasa sebatang kara


Juara lama tak pulang-pulang Pindah ke desa lain

Kawin lagi

Harapkan anak laki pengganti Penyambung keturunan Sebelum ia mati


Juara mendapat tiga anak Dari isteri barunya Semua perempuan

Tak ada laki


Suatu hari

ketika sakit berat Pawang yang diundang berkata:

"Adakan pesta korban Undang isteri pertama begitu pula puterinya

Mintalah pengampunan mereka demi leluhur."


Dengan berat hati Juara kirim pesan

Agar isteri dan puterinya datang

 

Lalu ia menanti


Pesuruh pun pulang Bawa berita meragukan:

Hati Juara dirundung bimbang Isteri dan puteri

Mungkin datang, mungkin tidak dan biar lupa gundahnya

Juara pergi berburu di hari anak-isterinya dikabarkan tiba


Ia berburu di lereng gunung di hutan di luar desa

Sepanjang hari sampai sorenya


Menjelang malam

Di kampung ternyata anak-isterinya tiba Tapi Juara tak tahu

asyik berburu rusa


Malamnya ia digotong berlumuran darah

Katanya diterkam harimau "Tak dapat lagi ditolong

Ajal menuntut sudah" - kata orang desa Lalu ia dibaringkan


di tengah rumahnya dulu

di mana anak isterinya telah menunggu


Yang menyambutnya dengan lagu ratap: "Kembali sudah, kembali juara

Juaraku pulang dari berburu rusa "


Pahlawan kita lalu mati

di pangkuan isteri yang ditinggalkan


Demikianlah desa kami kehilangan pahlawannya.

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...