Oleh: Mata Langit
Wajah yang pernah kusebut percaya,
rupanya rahasia kau jadikan dagangan murahan.
Janji di bibir hanyalah dekorasi,
yang runtuh saat diuji oleh kenyataan kecil.
Aku tak marah,
aku hanya mencatat.
Karena pengkhianatan yang tenang
lebih jelas daripada seribu permintaan maaf.
Dan dia—
suara yang membungkus diri,
nyaring, tinggi, penuh tepuk dada,
tapi di balik semua itu: hampa.
Semakin ia bicara, semakin ia telanjang,
semakin ia meninggi, semakin ia runtuh.
Tong kosong tak butuh musuh,
ia mengalahkan dirinya sendiri.
Kau menyerahkan namaku padanya,
seperti bidak yang kau lempar ke papan catur.
Tapi aku bukan pion yang bisa dipermainkan,
aku adalah tangan yang diam—
yang menutup permainan dengan sekali gerak.
Aku tak perlu menuding,
tak perlu menjelaskan.
Semakin kalian bicara,
semakin mudah kalian terbaca.
Kebenaran tak butuh teriakan,
ia berdiri sendiri, tegak,
sementara kalian sibuk menutupinya
dengan kebisingan yang melelahkan.
Kau pikir menguasai arena percakapan,
padahal hanya mengulangi suara kosongmu sendiri.
Aku memilih hening,
karena di dalam diam ada kuasa
yang tak bisa kau ganggu.
Lidahmu menari tanpa arah,
mencipta drama dari bayangan sendiri,
sementara aku duduk tenang,
membiarkanmu tenggelam
dalam kata-kata yang kau ciptakan.
Kau dan dia saling menopang dusta,
seperti dua tonggak rapuh di tanah longsor.
Berdiri sebentar untuk menipu mata,
lalu rubuh bersama, tak meninggalkan arti.
Aku belajar dari ini semua:
bahwa tidak semua sahabat pantas memegang rahasia,
tidak semua janji layak disimpan di dada,
dan tidak semua kepedulian harus diberi pada yang buta.
Maka biarlah aku jauh,
bukan karena kalah,
melainkan karena aku tak sudi
bermain dalam lingkaran kebisingan
yang tak ada makna.
Diamku bukan tunduk,
diamku adalah perhitungan.
Dan ketika waktunya tiba,
diam itu akan menjawab
lebih tajam daripada seribu perdebatan.
Dan ketika semua suara kalian habis,
yang tersisa hanyalah sepi.
Di dalam sepi itu,
nama kalian sendiri yang akan bergema.
Kediri, 10 September 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar