Senin, 04 Agustus 2025

‎SAJAK SEBOTOL BIR

 

‎Pejambon, 23 Juni 1977

‎W.S. RENDRA

‎Menenggak bir sebotol,

‎menatap dunia,

‎dan melihat orang-orang kelaparan.

‎Membakar dupa,

‎mencium bumi,

‎dan mendengar derap huru-hara.

‎Hiburan kota besar dalam semalam,

‎sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !

‎Peradaban apakah yang kita pertahankan ?

‎Mengapa kita membangun kota metropolitan ?

‎dan alpa terhadap peradaban di desa ?

‎Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,

‎dan tidak kepada pengedaran ?

‎Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,

‎Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing

‎akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam

‎Kota metropolitan di sini,

‎adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,

‎Australia, dan negara industri lainnya.

‎Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?

‎Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?

‎Kini telah terlantarkan.

‎Menjadi selokan atau kubangan.

‎Jalanlalu lintas masa kini,

‎mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,

‎adalah alat penyaluran barang-barang asing dari

‎pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan

‎bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

‎Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,

‎tidak untuk petani,

‎tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

‎Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.

‎Di mana kita hanya mampu berak dan makan,

‎tanpa ada daya untuk menciptakan.

‎Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?

‎Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?

‎Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik

‎yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan­­..

‎harus senantiasa menghasilkan­.

‎Dan akhirnya memaksa negara lain

‎untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?

‎­­­­­­­

‎Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?

‎Apakah pemikiran ekonomi kita

‎hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?

‎Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?

‎Apakah kita akan hanyut saja

‎di dalam kekuatan penumpukan

‎yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan

‎terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?

‎­­­­­­­.

‎Kita telah dikuasai satu mimpi

‎untuk menjadi orang lain.

‎Kita telah menjadi asing

‎di tanah leluhur sendiri.

‎Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,

‎dan menghamba ke Jakarta.

‎Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi

‎dan menghamba kepada Jepang, Eropa, atau Amerika.

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...