Minggu, 23 November 2025

Kediri 1678: Dua Puluh Tiga Hari dalam Api


Oleh: Mata Langit

Di tepi Brantas yang beriak muram,
terdengar genderang perang berdentam;
panji-panji emas berkibar gagah,
menyambut fajar yang berubah darah.

Benteng Kediri berdiri berlapis,
tiga dinding kokoh bagai janji manis.
Di mata musuh tampak menggetarkan—
apakah mampu menembus pertahanan?

Dari Balowerti pasukan menatap:
VOC datang dengan langkah gelap.
Tujuh ribu bayang dari utara
membawa dendam dan bara angkara.

Pertempuran menggelegar di lapis ketiga,
pedang beradu, tombak menjerit di udara.
Di antara panah yang beterbangan,
seorang perempuan cantik gugur dalam kenangan.

Istri tercinta Trunojoyo terjatuh,
ditembak kapten Belanda tanpa ampun penuh;
turun dari pandu, dikelilingi kalah,
namanya abadi dalam duka sejarah.

Kraton Kediri jadi lautan mayat,
darah mengalir, bumi pun sesak.
Namun Trunojoyo lari disergap malam,
menyisakan luka, dendam, dan salam.

Mahkota Majapahit dijadikan mainan,
dikenakan kapten pada Susuhunan.
Simbol kejayaan dijual murah,
pada pengkhianatan yang berbalut sejarah.

Namun catatan J.H.V. Balen bersuara:
antara fiksi dan kisah tertuang tinta.
Ia pelukis kerajaan Belanda yang masyhur,
tapi tulisannya penuh kabut kabur.

Walau demikian, cerita tetap berhembus
dari tutur sesepuh yang jujur dan tulus,
bahwa dua hari dua malam berturut,
isi kraton diboyong, emas perak menyambut.

Gerobak cikar dan kereta kuda beriring,
menuju Surabaya, harta pun hilang kering.
Panji-panji saja bersulam emas gemilang,
apalagi permata dan pusaka gemerlap terang.

Dua puluh tiga hari pasukan bertahan;
di Kediri, mereka meratakan benteng istana.
Mungkin tenggelam, mungkin terhapus,
lenyaplah jejak kejayaan yang halus.

Dan ketika mereka mundur ke utara,
18 Desember menjadi saksinya,
melalui Kertosono, Mojokerto, Perning;
luka Kediri tak lagi berdenting.

Kini hanya riwayat yang terucap,
tentang perang besar, sejarah gelap;
tentang emas, darah, dan air mata,
tentang Kediri yang hilang ditelan masa.

Di sela reruntuhan yang hening,
tercium aroma debu, darah, dan duka;
suara tangis dan ratap bersautan,
mengisi malam yang panjang tanpa bintang.

Bambu-bambu di tepi Brantas bergoyang lirih,
seolah turut berduka atas hilangnya cahaya.
Anak-anak menatap bekas benteng dengan takut,
dengan mata penuh tanya tentang masa depan.

Di sela kabut pagi yang masih tebal,
terselip bayang Trunojoyo menatap jauh,
dari hutan ke desa, dari sungai ke bukit,
membawa asa dan dendam yang tak pudar.

Dan meski Kediri kini menjadi kenangan,
namanya tetap hidup di setiap cerita,
di setiap bisikan para tetua,
di setiap langkah generasi yang menatap sejarah.

Suara genderang tetap bergema di sungai,
menjadi irama hati para pejuang yang gugur,
menjadi nyanyian para ibu yang kehilangan anak,
menjadi doa di antara reruntuhan dinding dan menara.

Setiap gerobak yang membawa harta rampasan
meninggalkan jejak debu di jalanan Kediri;
di mana para pengemis menatap kosong,
dan anak-anak meratap karena kelaparan.

Para prajurit VOC menertawakan nasib,
tetapi malam membawa mimpi buruk:
mereka mendengar bisikan pohon bambu,
melihat bayang-bayang yang tidak mati.

Di kampung-kampung, para perempuan menjerit,
mengingat suami, anak, dan saudara,
menggenggam kain, menyembunyikan air mata,
memastikan sejarah tak hilang begitu saja.

Dan Trunojoyo, meski terluka dan terguncang,
mengambil sumpah di bawah rembulan pucat:
bahwa keadilan akan datang,
bahwa Kediri suatu hari akan bangkit lagi.

Di setiap desa, di setiap hutan dan bukit,
terdengar bisikan nama Kediri;
namun juga terdengar dendam dan keberanian,
seolah bumi sendiri menolak untuk lupa.

Kediri, 23 September 2025

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...