Minggu, 23 November 2025

NYANYIAN PEREMPUAN BANGSA


Oleh: Mata Langit

Di jalanan penuh debu dan bayang,
perempuan berdiri—bukan sekadar tubuh,
melainkan bara yang menyala di dada bangsa,
membawa spanduk dari luka,
membawa poster dari doa,
dan suara yang tidak lagi bisa dibungkam kain represi.

Mereka datang,
dari kampung yang sunyi,
dari pabrik yang menelan waktu,
dari dapur yang dipenuhi asap dan kerja tanpa upah,
dari rumah yang sunyi tapi penuh jerit tak terdengar.

Mereka datang,
menyulam luka menjadi bendera,
menjahit air mata menjadi tuntutan,
menyanyikan dendang keberanian
di hadapan barikade polisi dan militer
yang berbaris bagai tembok bisu.

Oh, berapa kali tubuh mereka dijadikan ladang perang?
Berapa kali rahim mereka diperkosa oleh senjata dan seragam?
Berapa kali suara mereka dipatahkan
dengan aturan yang dibuat di ruang-ruang gedung berpendingin
oleh tangan-tangan yang tak pernah tahu
rasanya kehilangan anak dalam asap mesiu?

Namun mereka tidak tunduk.
Lihatlah ibu-ibu Kamisan,
dengan pakaian hitam dan bunga di tangan,
berdiri bagai batu karang
di hadapan istana yang menutup mata.
Lihatlah perempuan Mei 1998,
yang mengangkat luka Tionghoa menjadi api kolektif,
agar bangsa ini tidak lupa,
bahwa tubuh perempuan pernah dijadikan ladang pembantaian.

Mereka bukan sekadar korban.
Mereka adalah subjek sejarah,
menulis bab baru tentang demokrasi
dengan tinta air mata dan darah,
menyulamnya dengan benang solidaritas
di kain panjang bernama perjuangan rakyat.

Di setiap 8 Maret,
jalanan penuh dengan suara mereka:
teriakan melawan upah yang tak adil,
melawan kebijakan yang membebani pundak rapuh,
melawan perkawinan paksa, pelecehan, diskriminasi,
dan semua wajah patriarki yang bersalin rupa.

Mereka tahu,
kebebasan berekspresi adalah nafas,
hak berorganisasi adalah tulang,
perlindungan hukum adalah rumah.
Tanpa itu semua,
bangsa ini hanyalah kandang
yang memelihara ketakutan.

Maka perempuan berdiri,
dengan kain hitam di kepala,
dengan mulut ditutup kain,
dengan bunga di genggam tangan,
dan dengan suara yang menyusup lewat celah-celah pagar kawat besi:

“Tak ada demokrasi bila tubuh kami masih ditindas.
Tak ada keadilan bila suara kami masih dibungkam.
Tak ada bangsa bila perempuan hanya dianggap bayangan.”

Dan sejarah pun mencatat:
Aliansi Perempuan Indonesia bukan sekadar nama,
melainkan gema yang terus berulang,
dari masa Orde Baru,
ke Reformasi,
hingga hari ini.

Sebab perempuan tahu—
keadilan bukan hadiah,
melainkan hasil dari langkah kaki yang tak gentar,
hasil dari suara yang menolak sunyi,
hasil dari keberanian untuk berkata:

“Kami adalah api yang tak bisa padam,
kami adalah perempuan,
dan kami adalah kekuatan bangsa.”

Kediri, 10 Mei 2025

Tidak ada komentar:

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...