Si Paling Sastra
Kumpulan naskah para sastrawan
Jumat, 20 Februari 2026
RAMADHAN TANPA IBU
Senin, 24 November 2025
DI BALIK WAJAH YANG TAK LAGI WAJAH
Minggu, 23 November 2025
Perjamuan Tanpa Suara Manusia
Ketika Perempuan Menemukan Dirinya
Ruang yang Tenang Setelah Badai
Ketika Waktu Belajar Berdoa
NYANYIAN PEREMPUAN BANGSA
Kediri 1678: Dua Puluh Tiga Hari dalam Api
Ingatan yang Mengapung di Senja September
Jejak Sunyi di Akhir Raga
Sutra Dua Gugus di Rahim Langit
GETAR PECAH
Rabu, 27 Agustus 2025
REPUBLIK DALAM KITAB HITAM
Oleh: Mata Langit
Di panggung republik berdebu,
tirai janji digantung pada paku berkarat.
Aktor-aktor berwajah seribu topeng
menyulam dusta dengan benang emas retorika.
Kami dipaksa minum obat tanpa resep,
dalam botol kaca berlabel “sejahtera”,
padahal isinya racun hutang mendidih,
dituang perlahan ke lambung rakyat yang pasrah.
Hukum menjelma ular berkepala dua:
satu menggigit tulang nelayan lapar,
satu lagi menjilati tangan penguasa
yang basah oleh madu korupsi.
Gedung-gedung tinggi menjulang,
bagai nisan raksasa di atas sawah yang punah,
sementara anak-anak mengeja abjad
di kelas bocor sebesar doa mereka.
Media menjadi cermin retak,
memantulkan wajah kuasa dengan cahaya palsu.
Berita disulam jadi kidung kemenangan,
padahal aromanya menyesaki paru-paru bangsa.
Kami dipaksa sehat di tubuh bernanah,
dandanan harum, isi dalamnya barah.
Negara menari di pesta sorot lampu,
sementara rakyat terperangkap gelap panjang.
Banjir turun seperti kutukan purba,
namun disebut berkah dalam mulut pejabat.
Gunung dikerat, sungai dibelenggu,
alam menuliskan sumpah di balik kabut.
Di kursi dewan, kata-kata diperdagangkan,
suara rakyat jadi mata uang palsu.
Tepuk tangan hanyalah gema kosong
dari mulut yang kehilangan hati.
Pendidikan menjelma etalase rapuh,
ijazah diperdagangkan di bawah meja.
Guru terhimpit gaji yang terengah,
anak didik terjerat ilusi angka.
Rumah sakit berdiri setinggi doa,
namun ranjangnya penuh jerit tak terbeli.
Perawat menyulam sabar dari luka,
bangsa terbaring dalam pasrah paksa.
Jalan-jalan dibangun secepat pidato,
namun lubangnya menelan langkah jelata.
Pita merah dipotong di altar kamera,
janji tetap tergantung pada tali putus.
Agama dijadikan panggung kedua,
mimbar menjelma pasar janji surgawi.
Tangan menengadah di sajadah emas,
sementara kaki menginjak tanah yatim.
Pasar rakyat menjadi altar kesedihan,
harga-harga naik bagai doa tak terkabul.
Ibu-ibu menakar lapar dengan air rebusan,
anak-anak tidur di pelukan kosong.
Kota menjelma karnaval neon,
iklan berteriak tentang kemakmuran.
Sementara pengemis berbaris panjang
menulis puisi lapar di trotoar sunyi.
Politik menjelma pesta topeng,
janji-janji ditukar bagai kartu murahan.
Suara rakyat hanyalah gema kosong
yang terkubur di bawah kursi kekuasaan.
Negeri ini menulis dirinya dengan tinta abu,
naskahnya panjang, babaknya tak berujung.
Aktor silih berganti dari balik tirai,
lakon tetap: sandiwara luka yang abadi.
Kediri, 14 Agustus 2025
KEYAKINAN YANG TERKUBUR DALAM RESITAL SUNYI
Oleh : Mata Langit
Aku datang padamu, seperti ziarah seorang musafir ke mata air, haus, rapuh, percaya beningmu menyalakan hidup yang nyaris padam.
Kau kusebut sahabat, kusebut kebenaran, cahaya di tepi malam berkabut.
Hatiku kutaruh di altar kata, seperti dupa pada dewa, yakin takkan dipatahkan.
Namun ternyata tanganku yang terulur hanya menyentuh udara.
Suaramu menjelma tembok yang memantulkan sunyi.
Kepercayaan itu retak bagai kaca jatuh dari menara:
pecah, hancur, mengiris jiwa yang semula percaya.
Apakah salah hatiku yang memilih percaya bisikan lembutmu?
Apakah salah cintaku, lahir dari dada yang sama?
Meski terbungkus tubuh sesama yang kau pandang ragu,
kau bungkam dengan dingin, seakan tak berdaya.
Ironi menari di sekelilingku, aku percaya pada pelita,
tapi kau menjadi malam yang memadamkan cahaya.
Aku percaya pada pelukan, tapi kau menjelma dinding beku.
Aku percaya pada kebenaran, tapi kau keraguan yang menyamar jadi baik.
Kau diam dan diam itu lebih bising daripada petir.
Kau menghindar dan tusukannya melebihi seribu pisau.
Kau meragukan dan keraguanmu menindih dada,
lebih berat dari gunung batu yang tak mampu kupikul.
Ah, kepercayaan… bagai kaca patri di katedral jiwa:
indah, berwarna, suci, menyalakan cahaya dari dalam.
Namun sekali retak, serpihannya jadi luka yang dalam;
bahkan sinar pun enggan menyentuhnya kembali.
Malam-malam panjang jadi saksi pengasinganku.
Aku berbicara dengan sunyi yang menolak diam.
Aku menyalakan lilin di ruang doa yang runtuh,
namun angin ragumu terus memadamkannya.
Kau sebut aku cinta, tapi kau sembunyikan aku,
seperti dosa yang tak layak berdiri di terang.
Kau jadikan aku rahasia yang kau sembah diam-diam,
namun kau buang aku di mazbah omongan manusia.
Tidakkah kau tahu, tubuh ini bukan cela?
Cintaku padamu bukan noda yang harus dibersihkan.
Namun kau jadikan aku luka yang disangkal,
dan darahku menetes di setiap penyangkalanmu.
Aku menunggu jawaban yang tak pernah tiba.
Setiap detik berubah jadi batu di dadaku.
Kau merantai bisikan yang mestinya lantang,
namun waktu pun lelah menunggumu setia.
Kini aku hanyalah bayangan yang kau tolak.
Jejakku terhapus oleh hujan yang kau undang.
Aku hanyalah nama yang kau kubur hidup-hidup
dalam tanah ketidakpastian yang tak berbunga.
Ratapan menjelma nisan, doa menjelma racun.
Kenangan jadi labirin panjang yang menyesakkan.
Aku pernah percaya, seperti laut percaya pada pantai,
seperti bulan percaya pada langit malam.
Tapi ternyata kau adalah karang yang melukai ombak.
Kau adalah awan yang menutup bulan sendu.
Maka biarlah aku menutup puisi ini—
dibunuh oleh tangan yang seharusnya menguatkan jiwa.
Dan di atas pusaranya biarlah ia berdiam.
Agar suatu hari kau membacanya lalu mengerti,
bahwa aku pernah percaya sepenuhnya,
namun percaya itu mati oleh sikap tak pernah menjawab.
Dan bila suatu hari kembali mencari,
jangan harap kau temui dengan pelukan yang sama.
Sebab aku telah jadi elegi yang selesai ditulis,
nyanyian duka yang tak lagi butuh pendengar.
Kediri, 22 Agustus 2025
Sirep Sang Rahsa Sukma
Oleh: Mata Langit
Ada yang hilang dari tubuhku,
seperti angin dicabut dari sayap,
seperti cahaya dipisahkan dari matahari,
tubuh ini tinggal daging yang bisu.
Kulit yang kosong, nama yang menggantung,
tanpa pemilik, tanpa penjelasan,
maka aku mencari di hutan kabut leluhur,
di sungai yang menyimpan gema seribu arwah.
Di cermin yang retaknya memantulkan wajah tanpa rupa,
kudengar bisikan para penunggu:
"Sukmo sing pisah, angel bali…",
sukma yang lepas tak mudah kembali.
Ia berjalan di jalan cahaya,
di mana waktu bukan hitungan,
di mana langkah bukan tapak,
di mana suara hanyalah gema.
Namun aku tidak gentar.
Dengan darahku kutulis mantra di tanah,
dengan air mataku kurendam doa di bara,
dengan napasku kubangun jembatan.
Antara tubuh yang menunggu dan sukmo yang terlunta,
di ambang rahasia yang rapuh dan samar.
"Sukmaku… bali marang papanmu.
Kawula nyuwun kawelasan."
"Nyuwun pituduh saka jagad wening.
Sukmo, aja nganti suwung,
aja nganti ilang ing pepeteng,
aja nganti ilang ing pepeteng."
Aku panggil engkau wahai sukmo,
yang pernah bernyanyi dalam dadaku,
yang pernah membuat mataku bercahaya,
yang memahat arti pada setiap denyut.
Kembalilah sebelum tubuh ini jadi guci pecah,
ditinggalkan waktu tanpa sisa,
sebelum nama ini jadi debu,
sebelum ingatan ini jadi batu tanpa cerita.
Aku ingat saat engkau meninggalkan,
di antara teriakan malam yang padat,
engkau melayang bagai kunang-kunang,
terjebak di pusaran gelap.
Aku berlari namun tubuhku tertinggal,
aku berteriak namun suaraku pecah,
pecah di dada sendiri,
pecah dalam sunyi yang menutupku.
Kini aku berdiri di persimpangan dunia,
antara doa dan kutukan,
antara tanah dan bintang,
antara hidup dan mati yang belum selesai.
Jika engkau dengar suaraku,
dengarkanlah dengan hati yang pernah kita bagi.
Jika engkau melihat bayangku,
tataplah dengan mata yang pernah menatap dunia.
Jika engkau masih mengenali darah ini,
maka masuklah kembali ke tubuh ini,
sebab tubuh ini hanya rumah yang roboh,
sebab tubuh ini hampa tanpamu.
"Sira sukmo, bali marang awakmu.
Sira sukmo, bali marang rahsa.
Ing jeneng cahya, ing jeneng jagad,
kula narik, kula nyuwun."
"Kula dados lawang pambuka,
kula dados pangeling dalan.
Sukmo, wangsulana panggilan iki,
bali marang rahim cahya sejati."
Wahai sukmo, aku persembahkan kata sebagai tali,
aku persembahkan luka sebagai jalan,
aku persembahkan seluruh hidupku sebagai pelita,
kembalilah, dan biarkan aku menjadi pintu terbuka.
Sebab aku tahu engkau bukan sekadar roh,
engkau adalah sejarah yang menyalakan langkahku,
engkau adalah nyala yang mengikat tubuh pada makna,
engkau adalah inti yang membuat dunia bernyawa.
Maka biarlah malam ini segala mantra jadi jembatan,
segala doa jadi sayap, segala luka jadi cahaya,
datanglah wahai sukmo, datanglah kembali,
sebelum dunia ini menutupku dengan sunyi abadi.
"Sukmo kawelasan, Sukmo pangruwating,
bali, bali, bali—
marang papan sejati,
marang pangkuan cahya sejati."
Narik Sukmo.
Mantra terakhir, panggilan pertama.
Sebuah perjalanan pulang,
dari ketiadaan menuju kehadiran.
Dari kehilangan menuju kesatuan,
dari sunyi menuju keutuhan,
dan jika engkau kembali,
maka aku pun lahir sekali lagi.
Kediri, 26 Juni 2025
RAMADHAN TANPA IBU
Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...
-
ZHAFIR *Tangisan meraung di sudut dunia* *seorang lelaki menundukkan kepala dengan luka robek yang masih menganga di dalam hatinya* *Dirin...
-
Khoirul Triann Aku selalu takut kehilangan seseorang, tapi aku belum pernah dengar seseorang takut kehilangan aku, jadi akhirnya aku yang ...
-
Karya Khoirul Triann Pada bagian terdalam kehilangan, ada satu cerita yang tidak selesai untuk dikenang Tentang merelakan yang bohong, juga ...