Jumat, 20 Februari 2026

RAMADHAN TANPA IBU



Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang
Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang
Mencium aroma kurma yang menggoda,
menyambut Ramadhan dengan senyumnya

Assalamualaikum
Selamat pagi, Ibu

Bu, Ramadhan tahun ini aku janji tidak akan bolong lagi
Bu, puasa hari ini aku kuat, meski tadi pagi hampir mencuri minum dari keran kecil
Siang hari perutku berbunyi seperti ada kelinci meloncat-loncat
Belum lagi saat melihat es krim lewat di depan rumah
Aku buru-buru menutup mata dan berkata,
“Jangan goda aku!”

Bu,
Bapak bukan lagi laki-laki yang dulu,
yang selalu lepas dari tanggung jawab

Bapak mengantarkanku ke sekolah,
mengingatkanku salat, mengaji, dan berpuasa

Bapak menutup telingaku rapat-rapat
ketika ada yang mencemooh atau berkata kotor

Bapak sering membuatkanku telur mata sapi,
meskipun kadang keasinan

Bapak mencakup seluruh makna
lelaki terhebat di bumi yang berhati lembut Bu

Ia mengajarkanku sabar,
seperti orang yang menanti waktu berbuka
dengan penuh ketulusan

Halaman ini menyimpan banyak mimpi, Bu
Setiap sudutnya mengingatkanku
pada janji cinta yang pernah kita ukir bersama

Ibu, aku kehabisan kata
setelah menghitung derap langkah menuju bulan suci Ramadhan
Semesta kembali berbisik agar hati menjadi lebih lapang

Ibu tetap memiliki tempat khusus di sanubari,
seperti kiblat yang selalu menjadi arah pulang bagi hati

Di setiap takbir dan iqamah,
selalu kusebut namamu dalam doaku

yb
Ramadhan pertama
19-02-2026

Senin, 24 November 2025

DI BALIK WAJAH YANG TAK LAGI WAJAH


Oleh:ZRGEMA

Di dunia ini, topeng seperti jamur setelah hujan —
melekat di wajah, menutupi nurani yang remuk pelan.
Ada senyum tak lagi berarti bahagia,
ada mata yang pura-pura teduh, padahal menyimpan dusta.

Orang-orang pandai berpura-pura suci,
menyulam kemunafikan dengan benang simpati,
menebar madu di bibir yang getir,
menyembunyikan racun di balik tutur manis dan lirih.

Setiap kata jadi cermin yang retak,
menampilkan keindahan semu di antara kebohongan pekat.
Ada hati yang berkilau hanya di lampu panggung,
namun padam saat sunyi datang mengetuk ruang jiwa.

Kebaikan kini seperti embun di ujung duri,
singkat, rapuh, dan mudah menguap di panas pagi.
Keikhlasan menjadi mata air yang mengering,
di padang sandiwara yang bernama kehidupan.

Betapa letih aku mencari wajah yang tulus,
yang tak mengenakan senyum sebagai peluru halus,
berbicara tanpa mengatur nada,
memberi tanpa menyusun rencana.


di balik debu waktu dan deru kepura-puraan,
masih ada satu hati yang berdenyut sunyi,
yang diam-diam menangis agar tetap jujur,
di tengah dunia yang mencemooh ketulusan.

6 Oktober 2025
Surabaya

Minggu, 23 November 2025

Perjamuan Tanpa Suara Manusia


Oleh : Mata Langit

Di zaman ketika kilau dompet
dipuja seperti matahari palsu,
kita berjalan dalam bayang-bayang
yang diciptakan angka-angka di layar.
Cahaya semu itu memanjang,
menutupi tanah tempat jejak manusia
sebenarnya ditanam.

Di balik rerumputan pagi,
ada tetes peluh tukang kayu
yang menetes seperti embun terakhir.
Ia meraut dunia dari serat pohon,
seolah memahat ingatan bumi
agar tak mudah dilupakan.
Sementara petani menunggu fajar
sebagaimana seorang penjaga menunggu kabar,
menggenggam gelap
sampai benih akhirnya menghela napas.

Harga-harga di pasar
berdansa seperti daun kering
yang dipermainkan angin musiman.
Hari ini melambung,
besok rebah tanpa suara.
Namun keringat,
yang melekat pada punggung kelelahan,
adalah batu karang yang tak tunduk
pada gelombang apa pun.

Bangunan-bangunan kaca
yang kita sebut startup, unicorn, atau keajaiban,
hanya menara ilusi
yang ditopang oleh tangan-tangan
yang tidak terlihat.
Di balik cahaya layar ponsel,
ada bayangan punggung bungkuk
yang menahan beban agar tak runtuh.
Namun bayangan itu jarang disebut,
seperti akar pohon
yang tak pernah masuk dalam lukisan
meski menopang seluruh rimbun.

Kekayaan dibagi seolah adil—
tanah, modal, dan tenaga kerja
duduk bersama di meja perjamuan.
Namun hanya satu kursi
yang berisi sesuatu yang hidup:
manusia yang bekerja.
Sisanya hanyalah benda sunyi
yang menunggu disentuh.
Dan dalam ketegangan antara gaji, sewa,
dan keuntungan yang berlari tanpa lelah,
keringat manusia menjadi jembatan
yang terus diinjak
tanpa pernah dilihat.

Di kota-kota yang penuh layar terang,
kita memuja angka
seperti jemaat yang hilang arah.
Padahal para pekerja yang tersembunyi
mungkin sedang tersenyum tipis—
senyum yang pahit seperti kopi hitam—
karena mereka tahu
bahwa nilai tidak pernah lahir
dari gemerlap cahaya,
melainkan dari gelap yang bekerja diam-diam.

Pelajaran ini sederhana
namun tajam seperti duri mawar:
hargailah keringat,
bukan kilau dompet.
Dompet dapat mengembang
karena helah angin;
pasar dapat runtuh
karena gumaman kecil waktu.
Tetapi kerja manusia
adalah batu nisan kebenaran—
tak dapat dipindahkan,
tak dapat disihir oleh angka.

Kemakmuran sejati
bukan tentang siapa yang duduk paling tinggi,
melainkan siapa yang menunduk
untuk melihat dari mana semuanya berasal.
Maka jangan lagi terpukau oleh layar kosong.
Selamilah retakan kecil
di telapak tangan pekerja;
di sanalah dunia disusun ulang
tanpa tepuk tangan,
tanpa sorotan,
namun dengan kejujuran
yang tidak bisa ditipu waktu.

Kediri, 25 September 2025

Ketika Perempuan Menemukan Dirinya


Oleh : Mata Langit

Di sebuah pagi yang tidak diberi nama,
sebuah benih kecil jatuh
ke tengah padang kehidupan yang gaduh.
Tak ada yang mendengar denting kecilnya—
kecuali angin yang lewat tanpa peduli.
Namun dari benih sunyi itu,
suatu hari tumbuh arah
yang menolak dibelokkan oleh siapa pun.

Perempuan itu adalah benih itu,
yang mula-mula hanya berupa desir
di antara ributnya dunia.
Ia belajar tumbuh
tanpa peta, tanpa kompas,
hanya mengandalkan ingatan samar
tentang cahaya yang pernah menyentuhnya.

Ia menyebut cahaya itu sebagai dirinya sendiri.

Ketika matahari bergerak,
bayangannya memanjang
seperti akar yang tumbuh melawan tanah.
Orang-orang sering menyangka bayangan itu kelemahan,
padahal dari situlah ia menyerap keteguhan.
Ia memintal kekuatan
dari apa yang tak terlihat,
dari apa yang sering diremehkan,
dari hal-hal yang dianggap rapuh.

Di rumah-rumah yang penuh gema suara lain,
ia menjadi kursi yang menopang
meski tak pernah diajak bicara.
Di jalan-jalan yang sibuk,
ia menjadi lampu kecil
yang dinyalakan hanya saat gelap tiba.
Dunia selalu menggunakannya
tanpa mengenalnya.

Lalu ia berhenti.
Ia mendengar renyah retakan batinnya sendiri,
retakan yang membuka rahasia baru:
ia tidak diciptakan untuk menjadi furnitur tak bernama
atau cahaya pinjaman di sudut kota.

Ia diciptakan untuk menjadi arah.

Pada malam terpanjang di hidupnya,
ia duduk di meja kosong
dan menatap semangkuk waktu
yang sudah lama tak disentuhnya.
Di dalam waktu itu,
ia melihat serpihan dirinya:

sebuah tangan yang selalu menahan,
sebuah langkah yang selalu mundur,
sebuah suara yang selalu memelankan dirinya
demi menjaga damai yang tak pernah menjadi miliknya.

Lalu ia meraih serpihan itu,
menempelkannya kembali
seperti menata kepingan peta kuno
yang belum pernah ia baca.
Dari peta itulah ia memahami sesuatu:

bahwa perempuan masa kini
harus menjahit ulang takdirnya sendiri
karena dunia sering menjahit terlalu longgar,
atau terlalu ketat,
atau tanpa menanyakan ukuran jiwanya.

Ia keluar ke jalan.
Di kiri-kanannya berdiri bangunan zaman—
menara ambisi, pagar budaya,
jendela tua bernama tradisi.
Namun dari jendela lain
terhembus angin baru
yang membawa kabar:
bahwa ia tidak harus tinggal
di ruangan yang sama selamanya.

Di tangan kanannya,
ia membawa sebilah malam
yang ia ukir menjadi kompas.
Di tangan kirinya,
ia menggenggam pagi
yang ia lipat menjadi peta baru.

Ia berjalan tanpa menoleh.
Sebab ia tahu:
masa lalu sering mencoba menjadi jangkar
di perahu yang ingin berlayar.

Ketika hujan turun,
ia mengulurkan telapak
dan menerima satu-satu tetesnya
seperti menerima pesan dari langit:

“Tumbuhlah tanpa menunggu restu.”

Dari hujan itu,
ia menganyam rumah kecil dalam dirinya—
rumah tanpa pintu,
karena ia tak ingin ada yang masuk
untuk mematikan apinya lagi.
Rumah itu dijaga bukan oleh dinding,
melainkan oleh keputusannya
untuk tidak lagi tunduk
pada apa yang membuatnya mengecil.

Di puncak hari,
ia berdiri di atas bukit sunyi
dan di hadapannya terbentang dunia
yang berkali-kali menundukkannya.
Kali ini ia menatap balik dunia itu
tanpa gentar,
tanpa meminta persetujuan,
tanpa menurunkan matanya.

Ia mengangkat atlas sunyi itu—
atlas yang ia susun dari retakan hidupnya,
dari kehilangan yang ia simpan dalam rahasia,
dari keberanian yang ia curi sedikit demi sedikit
dari setiap subuh yang ia lalui sendirian.

Lalu ia berkata,
dengan suara yang tidak lagi ia sembunyikan:

“Aku tidak menunggu diselamatkan.
Aku menyelematkan diriku sendiri.”

Dan dengan itu,
dunia perlahan berubah,
karena perempuan yang menemukan dirinya
adalah kekuatan yang tak lagi bisa dibungkam
oleh apa pun kecuali dirinya sendiri.

Kediri, 22 November 2025

Ruang yang Tenang Setelah Badai


Oleh: Mata Langit

Bagaimana aku bisa menyalahkan angin
atas kekacauan yang menderu di dadaku,
jika akulah yang membuka jendelanya
dengan tangan gemetar penuh harap—
menunggu kau masuk bersama cahaya,
namun yang datang hanyalah badai.

Aku berdiri di tepi sunyi,
memandang reruntuhan hati
yang berceceran seperti dedaunan,
disapu angin liar yang tak mengenal belas kasih.
Ah, betapa naifnya aku,
menyangka cintamu adalah sepoi lembut,
padahal engkau adalah puting beliung
yang mencabik akar kepercayaanku.

“Bukankah aku yang salah, kekasih?
Bukankah aku yang membuka jalanmu ke dadaku?
Mengizinkanmu menyalakan api di ruang yang rawan,
menggantungkan bulan pada senyummu,
lalu membiarkan malamku runtuh saat kau pergi?
Jika aku menangis,
bukankah itu hanya gema dari keputusanku sendiri?”

Maka janganlah kau kira aku akan mengutukmu.
Aku hanya mengutuk diriku—
yang terlalu berani menjemput luka,
yang terlalu percaya pada janji bintang,
yang menukar kewaspadaan dengan mimpi manis.

Angin, oh angin,
kau sekadar tamu yang kuundang.
Namun siapa sangka,
engkau membawa badai di pundakmu.
Seketika, meja kebahagiaan terbalik,
cawan harapan pecah,
dan rumah jiwaku menjadi reruntuhan.

“Andai saja aku tidak membuka jendela itu,
mungkin aku masih utuh,
mungkin aku masih bernyanyi pada pagi
tanpa rasa sesak di tenggorokan.
Tapi apa gunanya andai-andai?
Aku sudah terlanjur menjadi reruntuhan
yang bahkan angin pun enggan singgahi kembali.”

Kini aku berjalan di antara bayangan,
menyapu serpihan hatiku sendiri.
Setiap langkah terasa seperti menziarahi makam—
makam kenangan, makam janji, makam cinta.
Aku membaca doa yang tak terdengar,
selain oleh gema dalam dadaku sendiri.

Oh kekasih,
kau pergi seperti bayangan yang patah,
meninggalkan debu di mataku,
meninggalkan sepi di nadi,
meninggalkan aku pada takdir
yang sebenarnya kutulis dengan tanganku sendiri.

Bagaimana aku bisa menyalahkan angin
jika akulah yang membuka jendela?
Bagaimana aku bisa menyalahkan kepergianmu
jika akulah yang menyambutmu dulu dengan pelukan terbuka?
Kini hanya ada satu yang tersisa:
aku, duduk di kursi waktu,
memandang jendela itu—
masih terbuka,
tapi tak ada lagi yang ingin masuk.

“Biarlah,
aku akan belajar menutupnya perlahan,
menyisakan celah hanya untuk cahaya,
bukan lagi untuk cinta yang berpura-pura.
Jika luka ini harus jadi guru,
maka aku akan duduk di kelasnya,
meski air mata jadi tinta,
meski rinduku jadi papan tulis yang retak.”

Dan angin pun pergi,
meninggalkan hening,
meninggalkan aku bersama elegi ini
yang bernyanyi lirih di sela-sela retakan hati.

Bayanganmu pun masih berkeliaran
di dinding ruang ingatan.
Ia tak lagi berbicara—
hanya menatap dengan mata hampa,
seolah ingin berkata:
“Lihat, aku masih di sini,
di tempat yang tak pernah kau bersihkan dari rindu.”

Aku menyalakan lilin di dalam dada,
mencoba menghalau gelap
yang ditinggalkan langkahmu.
Namun setiap kali nyala itu membesar,
angin datang lagi—
menyapa dengan wajah baru,
menyamar sebagai harapan.

Kadang aku ingin menjadi batu—
tak mengenal arah, tak tunduk pada musim.
Tapi bahkan batu pun retak
bila hujan jatuh terlalu lama.
Dan aku hanyalah manusia
yang mencoba tegar di antara reruntuhan janji.

Ada malam di mana aku berbincang dengan cahaya,
memintanya menghapus siluetmu dari dinding jiwaku.
Namun cahaya hanya tersenyum lirih,
katanya, “Aku tak bisa menghapus bayangan
tanpa terlebih dulu memadamkanmu.”

Ah, betapa getir pelajaran itu—
bahwa untuk melupakan,
kadang kita harus kehilangan bagian dari diri sendiri.
Maka, aku biarkan saja cahaya dan bayangan menari,
seperti dua kutub yang tak pernah bisa berdamai,
namun saling melengkapi dalam luka yang sama.

Kini, bila angin kembali,
aku takkan menutup jendela,
tapi juga takkan mengundang.
Biarlah ia lewat seperti waktu—
menyentuh sebentar,
meninggalkan kisah tanpa suara.
Aku cukup menjadi ruang yang tenang,
tempat segala badai kehilangan maknanya.

Dan bila suatu hari cahaya benar-benar datang,
bukan sebagai janji,
tapi sebagai kejujuran,
aku akan menyambutnya tanpa ragu,
dengan dada yang tak lagi takut terbuka,
dan hati yang telah belajar:
bahwa tidak semua angin membawa pergi—
ada juga yang datang untuk menenangkan.

Kediri, 1 Oktober 2025


Ketika Waktu Belajar Berdoa


Oleh : Mata Langit

Di ujung senja yang perlahan redup,
kau masih berdiri dengan hati yang lembut,
meski dunia sering menuduhmu bodoh,
karena sabar yang tak habis-habis,
dan percaya yang tak pernah kering.

Kau tetap menanam kebaikan,
di tanah yang kadang tandus oleh dusta,
menyiram luka dengan doa,
menjahit kecewa dengan ketulusan,
meski tanganmu gemetar menahan pedih.

Orang-orang berlalu,
ada yang menertawakan sabarmu,
ada yang menuduhmu lemah karena memaafkan.
Tapi langit tahu,
bahwa hati yang ikhlas selalu menyala,
meski dibungkam oleh gelap yang panjang.

Jangan takut menjadi baik,
meski dunia sibuk mengukur balasan.
Karena waktu, dengan langkah rahasianya,
menyimpan kesetiaan yang tak terlihat.
Ia akan datang perlahan,
membuka tabir yang selama ini kau sabarkan.

Mereka yang menipumu akan tersadar,
bahwa kejujuranmu bukan kelemahan,
melainkan cermin dari cahaya yang tak pernah padam.
Dan di saat itu,
Tuhan akan kirimkan jiwa yang baru,
yang mencintaimu tanpa syarat,
yang melihatmu bukan dari luka,
tapi dari keteguhan yang tak terlihat mata.

Percayalah,
kebaikanmu tak akan mati di tengah badai,
ia hanya bersembunyi di balik waktu,
menunggu saat yang paling indah
untuk kembali padamu sebagai keajaiban.

Karena menjadi baik,
meski sering disalahpahami,
adalah perjalanan pulang menuju cahaya.
Dan suatu hari nanti,
kau akan tersenyum di bawah langit yang tenang,
menyadari:
segala sabarmu, segala lukamu,
tak pernah sia-sia.

Waktu akan menjahit semua luka,
menghapus debu yang menutupi niatmu,
menumbuhkan bunga di tanah kecewa,
dan menghadirkan pelangi
setelah badai panjang yang kau peluk diam-diam.

Biarkan saja mereka berlalu,
yang pernah meremehkan hatimu,
karena suatu saat,
mereka akan kembali menatapmu—
bukan lagi dengan tawa,
melainkan penyesalan yang tak terucap.

Dan engkau,
akan tetap melangkah dengan langkah lembut,
dengan mata yang jernih,
dengan hati yang sudah berdamai dengan luka.
Sebab kau tahu,
bahwa tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang,
hanya tertunda untuk dipetik pada musim yang tepat.

Jadi, tetaplah menjadi cahaya,
meski kadang kau harus berjalan sendirian.
Tetaplah menjadi hangat,
meski dunia membalas dengan dingin.
Karena waktu akan membuktikan,
bahwa hatimu yang tulus
adalah rumah bagi segala kebaikan
yang tak pernah punah.

Dan ketika semua berlalu,
kau akan berdiri di tepi harapan baru,
memandang masa lalu tanpa amarah,
hanya dengan senyum lembut yang berbisik:
“Terima kasih, waktu…
telah menjagaku sampai di sini.”

Kediri, 9 Oktober 2025

NYANYIAN PEREMPUAN BANGSA


Oleh: Mata Langit

Di jalanan penuh debu dan bayang,
perempuan berdiri—bukan sekadar tubuh,
melainkan bara yang menyala di dada bangsa,
membawa spanduk dari luka,
membawa poster dari doa,
dan suara yang tidak lagi bisa dibungkam kain represi.

Mereka datang,
dari kampung yang sunyi,
dari pabrik yang menelan waktu,
dari dapur yang dipenuhi asap dan kerja tanpa upah,
dari rumah yang sunyi tapi penuh jerit tak terdengar.

Mereka datang,
menyulam luka menjadi bendera,
menjahit air mata menjadi tuntutan,
menyanyikan dendang keberanian
di hadapan barikade polisi dan militer
yang berbaris bagai tembok bisu.

Oh, berapa kali tubuh mereka dijadikan ladang perang?
Berapa kali rahim mereka diperkosa oleh senjata dan seragam?
Berapa kali suara mereka dipatahkan
dengan aturan yang dibuat di ruang-ruang gedung berpendingin
oleh tangan-tangan yang tak pernah tahu
rasanya kehilangan anak dalam asap mesiu?

Namun mereka tidak tunduk.
Lihatlah ibu-ibu Kamisan,
dengan pakaian hitam dan bunga di tangan,
berdiri bagai batu karang
di hadapan istana yang menutup mata.
Lihatlah perempuan Mei 1998,
yang mengangkat luka Tionghoa menjadi api kolektif,
agar bangsa ini tidak lupa,
bahwa tubuh perempuan pernah dijadikan ladang pembantaian.

Mereka bukan sekadar korban.
Mereka adalah subjek sejarah,
menulis bab baru tentang demokrasi
dengan tinta air mata dan darah,
menyulamnya dengan benang solidaritas
di kain panjang bernama perjuangan rakyat.

Di setiap 8 Maret,
jalanan penuh dengan suara mereka:
teriakan melawan upah yang tak adil,
melawan kebijakan yang membebani pundak rapuh,
melawan perkawinan paksa, pelecehan, diskriminasi,
dan semua wajah patriarki yang bersalin rupa.

Mereka tahu,
kebebasan berekspresi adalah nafas,
hak berorganisasi adalah tulang,
perlindungan hukum adalah rumah.
Tanpa itu semua,
bangsa ini hanyalah kandang
yang memelihara ketakutan.

Maka perempuan berdiri,
dengan kain hitam di kepala,
dengan mulut ditutup kain,
dengan bunga di genggam tangan,
dan dengan suara yang menyusup lewat celah-celah pagar kawat besi:

“Tak ada demokrasi bila tubuh kami masih ditindas.
Tak ada keadilan bila suara kami masih dibungkam.
Tak ada bangsa bila perempuan hanya dianggap bayangan.”

Dan sejarah pun mencatat:
Aliansi Perempuan Indonesia bukan sekadar nama,
melainkan gema yang terus berulang,
dari masa Orde Baru,
ke Reformasi,
hingga hari ini.

Sebab perempuan tahu—
keadilan bukan hadiah,
melainkan hasil dari langkah kaki yang tak gentar,
hasil dari suara yang menolak sunyi,
hasil dari keberanian untuk berkata:

“Kami adalah api yang tak bisa padam,
kami adalah perempuan,
dan kami adalah kekuatan bangsa.”

Kediri, 10 Mei 2025

Kediri 1678: Dua Puluh Tiga Hari dalam Api


Oleh: Mata Langit

Di tepi Brantas yang beriak muram,
terdengar genderang perang berdentam;
panji-panji emas berkibar gagah,
menyambut fajar yang berubah darah.

Benteng Kediri berdiri berlapis,
tiga dinding kokoh bagai janji manis.
Di mata musuh tampak menggetarkan—
apakah mampu menembus pertahanan?

Dari Balowerti pasukan menatap:
VOC datang dengan langkah gelap.
Tujuh ribu bayang dari utara
membawa dendam dan bara angkara.

Pertempuran menggelegar di lapis ketiga,
pedang beradu, tombak menjerit di udara.
Di antara panah yang beterbangan,
seorang perempuan cantik gugur dalam kenangan.

Istri tercinta Trunojoyo terjatuh,
ditembak kapten Belanda tanpa ampun penuh;
turun dari pandu, dikelilingi kalah,
namanya abadi dalam duka sejarah.

Kraton Kediri jadi lautan mayat,
darah mengalir, bumi pun sesak.
Namun Trunojoyo lari disergap malam,
menyisakan luka, dendam, dan salam.

Mahkota Majapahit dijadikan mainan,
dikenakan kapten pada Susuhunan.
Simbol kejayaan dijual murah,
pada pengkhianatan yang berbalut sejarah.

Namun catatan J.H.V. Balen bersuara:
antara fiksi dan kisah tertuang tinta.
Ia pelukis kerajaan Belanda yang masyhur,
tapi tulisannya penuh kabut kabur.

Walau demikian, cerita tetap berhembus
dari tutur sesepuh yang jujur dan tulus,
bahwa dua hari dua malam berturut,
isi kraton diboyong, emas perak menyambut.

Gerobak cikar dan kereta kuda beriring,
menuju Surabaya, harta pun hilang kering.
Panji-panji saja bersulam emas gemilang,
apalagi permata dan pusaka gemerlap terang.

Dua puluh tiga hari pasukan bertahan;
di Kediri, mereka meratakan benteng istana.
Mungkin tenggelam, mungkin terhapus,
lenyaplah jejak kejayaan yang halus.

Dan ketika mereka mundur ke utara,
18 Desember menjadi saksinya,
melalui Kertosono, Mojokerto, Perning;
luka Kediri tak lagi berdenting.

Kini hanya riwayat yang terucap,
tentang perang besar, sejarah gelap;
tentang emas, darah, dan air mata,
tentang Kediri yang hilang ditelan masa.

Di sela reruntuhan yang hening,
tercium aroma debu, darah, dan duka;
suara tangis dan ratap bersautan,
mengisi malam yang panjang tanpa bintang.

Bambu-bambu di tepi Brantas bergoyang lirih,
seolah turut berduka atas hilangnya cahaya.
Anak-anak menatap bekas benteng dengan takut,
dengan mata penuh tanya tentang masa depan.

Di sela kabut pagi yang masih tebal,
terselip bayang Trunojoyo menatap jauh,
dari hutan ke desa, dari sungai ke bukit,
membawa asa dan dendam yang tak pudar.

Dan meski Kediri kini menjadi kenangan,
namanya tetap hidup di setiap cerita,
di setiap bisikan para tetua,
di setiap langkah generasi yang menatap sejarah.

Suara genderang tetap bergema di sungai,
menjadi irama hati para pejuang yang gugur,
menjadi nyanyian para ibu yang kehilangan anak,
menjadi doa di antara reruntuhan dinding dan menara.

Setiap gerobak yang membawa harta rampasan
meninggalkan jejak debu di jalanan Kediri;
di mana para pengemis menatap kosong,
dan anak-anak meratap karena kelaparan.

Para prajurit VOC menertawakan nasib,
tetapi malam membawa mimpi buruk:
mereka mendengar bisikan pohon bambu,
melihat bayang-bayang yang tidak mati.

Di kampung-kampung, para perempuan menjerit,
mengingat suami, anak, dan saudara,
menggenggam kain, menyembunyikan air mata,
memastikan sejarah tak hilang begitu saja.

Dan Trunojoyo, meski terluka dan terguncang,
mengambil sumpah di bawah rembulan pucat:
bahwa keadilan akan datang,
bahwa Kediri suatu hari akan bangkit lagi.

Di setiap desa, di setiap hutan dan bukit,
terdengar bisikan nama Kediri;
namun juga terdengar dendam dan keberanian,
seolah bumi sendiri menolak untuk lupa.

Kediri, 23 September 2025

Ingatan yang Mengapung di Senja September


Oleh : Mata Langit

Ada yang datang
tanpa aba-aba,
diam seperti fajar yang merayap
di tepi langit subuh yang malu-malu,
menyentuh dada dengan cahaya pucat
hingga jantung berdetak
lebih cepat dari waktu.

Ia tak mengetuk pintu,
hanya hadir sebagai bayang tipis
yang menapaki sela udara,
seperti desir angin yang melintas di celah dedaunan,
seperti embun yang tiba-tiba menitik
pada kelopak bunga yang tertidur.

“Ah… mengapa dadaku berlari begitu jauh,
padahal ia hanya melintas tanpa suara?
Bukankah aku pernah berjanji menjaga sunyi?
Namun satu bayang sanggup meruntuhkan
tenang yang sekian lama kujaga.”

Bukan gemuruh yang megah,
ia lahir dari getar kecil yang nyaris tak terlihat:
dari senyum gugup di sudut bibir,
dari tatapan yang singkat
namun menggema bagai denting senja di tepi laut,
dari sapaan sederhana
yang menyusup ke telinga dan tinggal
lebih lama dari bayang sore.

Kadang ia hadir dalam lirih hujan sore,
kadang hanya lewat sebagai gema langkah di koridor sekolah,
atau sebagai wangi samar yang terbawa angin
dari rerumputan yang basah embun.

“Aku tak mengerti…
bagaimana mungkin senyum sesederhana itu
menggetarkan benteng yang kubangun di dada?
Mungkin karena hati selalu lemah
di hadapan ketulusan.”

Lama aku mencoba menyangkalnya,
menyibukkan diri dengan buku dan baris-baris catatan,
namun di setiap halaman yang kubuka
ada satu huruf yang seolah menatap balik,
ada tanda baca yang mengingatkan pada alisnya,
ada jeda yang menyerupai cara ia menyebut namaku.

Namun kami tahu,
tak semua musim
diciptakan untuk menetap.
Ia datang seperti semi yang singgah,
membawa gugusan bunga liar
dan wangi tanah basah,
lalu pergi ketika angin kemarau
mencabut akar harap dari tanah dada.

“Jika saja aku tahu ia hanya singgah,
tentu kupagari hatiku sejak mula.
Namun siapa yang bisa menahan bunga
untuk mekar saat musim datang?
Siapa yang bisa mengurung burung
agar tak terbang saat langit memanggilnya pulang?”

Malam-malam sesudahnya
menjadi ladang sunyi yang dipenuhi gema namanya.
Bintang-bintang menggigil di atas atap
dan bulan seolah memahami rahasia yang kusembunyikan.
Aku berjalan di jalan kota yang basah hujan
dan bayangannya melintas di setiap jendela toko
yang masih menyimpan sisa cahaya lampu.

Meski kini ia jauh,
ia tinggal sebagai denyut kecil
di sudut yang tak terjangkau waktu,
menjadi kenangan yang tidak meminta pulang
namun senantiasa hadir
ketika hujan pertama musim ini
mengetuk jendela sore.

“Ah, hujan selalu membawa langkahnya pulang,
meski hanya sebagai bayang di tepi ingatan.
Tetesnya membangunkan rindu yang diam,
dan membuka pintu sunyi yang kukira telah tertutup.”

Aku telah dewasa,
telah mencintai lagi,
namun setiap kali menoleh pada bayang itu
ada senyum yang singgah
tanpa kusadari—
bukan duka, bukan luka,
melainkan cahaya lembut
yang dulu menuntunku mengenal
bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.

Kadang aku membayangkan
ia berjalan di tepi senja kota yang asing,
mungkin menatap langit yang sama
dan diam-diam menyapa musim yang pernah kami bagi.
Barangkali ia tak lagi ingat,
namun aku tahu,
kehadirannya pernah menjadi sungai kecil
yang memberi minum padang hatiku yang kering.

Kini, saat senja membelai wajah bumi
dengan cahaya yang merona lembut,
aku tahu—
ia bukanlah luka yang ingin kulupa,
melainkan musim semi yang pernah mekar
di ladang hatiku,
memberi warna pada tanah tandus
yang dulu tak mengenal debar.

“Terima kasih…
karena pernah singgah sebagai musim terindah
di halaman hidupku.
Aku tidak lagi merindukanmu untuk kembali,
cukup merindukan keindahan yang pernah kau titipkan di dadaku.”

Dan ketika malam tiba,
dengan bintang-bintang yang menulis kisah di langit,
aku berdoa diam-diam:
semoga ia bahagia,
di mana pun langkahnya kini berpijak,
seperti aku yang diam-diam bahagia
karena pernah mengenal musim yang datang
tanpa aba-aba—
dan mengajarkanku arti debar pertama.

Kediri, 10 September 2025

Jejak Sunyi di Akhir Raga


Oleh : Mata Langit

Aku pernah menjadi rumah bagi cintamu,
lantai dadaku terbuat dari harapan,
atap ragaku berdiri karena doa-doa,
namun kini semuanya roboh,
kau pergi membawa kunci pintu,
dan aku tinggal bersama sunyi yang menggigil.

Jantungku bukan lagi jantung,
melainkan pintu kosong yang diketuk angin,
setiap detak hanyalah gema hampa,
seperti langkah di koridor yang ditinggalkan.
Aku mencoba tersenyum di wajah orang-orang,
padahal bibirku retak, hatiku patah tanpa sisa.

Kesedihan ini tak lagi air mata,
ia berubah jadi sungai asin yang menenggelamkan,
setiap malam aku berenang di dalamnya,
tanpa pelampung, tanpa daratan.
Aku tenggelam seribu kali,
dan setiap kali bangkit, kutemui arus yang sama.

Aku pernah percaya cinta itu doa,
tapi kini ia hanyalah kutukan,
mantra yang memanggil hantu di kepalaku.
Kenanganmu menari bagai bayangan lilin,
setiap kedipan mataku menyalakan wajahmu,
setiap tarikan napas menghadirkan suaramu.

Tidur bagiku hanyalah siksaan baru,
bantal menjadi saksi air mata,
selimut hanyalah kain kafan sementara.
Aku berbaring bukan untuk istirahat,
tapi untuk menyaksikan ribuan pisau
menari di dadaku tanpa henti.

Pagi tak lagi indah,
ia hanya kalender yang mengulang kepedihan,
matahari bagiku adalah penghinaan,
sebab ia tetap terbit meski hatiku sudah mati.
Orang-orang berkata aku masih hidup,
padahal aku hanya bangkai yang bisa berjalan.

Aku marah pada dunia,
marah pada udara yang tetap kubiarkan masuk,
marah pada nadiku yang tak mau berhenti berdenyut.
Aku marah pada cermin
yang mengembalikan wajah asing ini,
wajah pecundang yang gagal menjaga cintanya.

Aku benci jalan-jalan yang pernah kita lalui,
bangku yang pernah kita duduki,
kota yang merekam langkah kita.
Semuanya kini menjelma penjara,
setiap sudut memanggil namamu,
setiap dinding mengulang perpisahan itu.

Aku menuduh diriku sendiri,
mengadili tubuhku yang rapuh,
menggantung namaku di tiang penghakiman.
Aku berbisik pada bayangan di cermin:
“Kau pantas ditinggalkan,
kau pantas sendiri, selamanya sendiri.”

Cinta bagiku kini adalah burung patah sayap,
ia terjatuh, meronta, lalu mati di pelukanku.
Kepercayaan hancur seperti kaca dilempar batu,
setiap serpihnya melukai tanganku sendiri.
Aku mencintaimu dengan seluruh tubuhku,
dan kini tubuhku pun ikut mati bersamamu.

Aku menutup hatiku, bukan karena tak ingin,
tapi karena takut luka ini berdarah lagi.
Gelap jadi tempatku bersembunyi,
sunyi jadi bahasa yang paling jujur.
Aku lebih memilih sepi yang melahap,
daripada cahaya yang menusuk.

Namun entah kenapa,
dari reruntuhan ini kadang muncul sebutir cahaya.
Kecil, nyaris tak terlihat,
tapi ia membuatku bertanya:
“Apakah mungkin aku sembuh?
Atau aku hanya menunggu mati perlahan?”

Kediri, 29 Agustus 2025

Sutra Dua Gugus di Rahim Langit


Oleh : Mata Langit

Di jalan raya yang berdebu,
terdengar riuh suara rakyat,
bukan sekadar teriakan,
melainkan nyala yang menembus langit kota.
Bendera-bendera terangkat,
seperti luka yang enggan ditutup kain putih,
seperti dada yang menahan sesak,
karena harga hidup melambung tanpa tali penyangga.

Mereka datang—
mahasiswa, buruh, ojol, guru,
ibu-ibu yang menimang anak sambil menanti harga beras yang jatuh,
dan ayah-ayah yang resah di depan pintu pabrik,
karena daftar nama PHK panjang seperti garis nasib.

Tujuh belas suara dipancang
seperti tiang-tiang darurat di jalan revolusi:
tarik serdadu dari aspal kota,
hentikan belenggu di pergelangan tangan demonstran,
buka pintu penjara bagi yang bersuara,
jangan biarkan wajah Affan dan Umar
terhapus dari catatan bangsa.

Tujuh belas jerit ditujukan ke kursi empuk,
yang di dalamnya para wakil rakyat duduk sambil menimbang tunjangan.
Beku, kata rakyat.
Tunda, kata rakyat.
Buka semua lembar anggaran,
biarkan transparansi menelanjangi kemewahan.
Badan kehormatan, bangunlah,
periksa para pelaku yang menjual amanah
di meja rapat dan lorong sunyi kekuasaan.

Partai-partai dituding,
kader yang berdiri di mimbar palsu dituntut mundur,
karena rakyat tak lagi sudi
mendengar pidato yang hambar seperti abu.
“Bersamalah dengan kami,”
kata mahasiswa yang bersimbah keringat,
“hadirlah dalam ruang dialog,
bukan hanya di baliho dan spanduk murahan.”

Polisi, polisi—
di jalan engkau bagai bayangan panjang,
tongkatmu seperti malam yang jatuh terlalu dini.
Hentikan pukulmu,
karena tubuh rakyat bukan medan latih.
Tangkap mereka yang merusak sumpah,
yang mencoreng seragam dengan darah saudaranya sendiri.

Dan TNI—
tentara, kembalilah ke barak,
tanah ini bukan lagi ladang perang,
tetapi halaman rumah yang ingin damai.
Lepaskan peran yang bukan milikmu,
biarkan sipil berjalan dengan kaki sendiri.

Kementerian ekonomi,
dengar deru perut yang kosong,
dengar jerit buruh yang ditelan mesin,
dengar gojek yang memacu roda
sementara tarif tak kunjung menebus bensin.
Bayarlah kerja dengan layak,
jangan biarkan guru dan tenaga kesehatan
menjadi lilin yang habis terbakar tanpa cahaya kembali.

Namun, suara itu tak hanya singkat.
Ada delapan nyala jauh di horizon,
jangka panjang seperti janji reformasi
yang dulu pernah dicatat di halaman konstitusi.
Bersihkan DPR dari racun korupsi,
hapus privilese yang menjelma candu.
Reformasi partai,
biar oposisi bukan sekadar sandiwara
tetapi napas demokrasi yang sejati.

Rakyat meminta pajak yang adil,
bukan cambuk bagi yang miskin,
melainkan jaring yang menangkap
harta para penguasa yang menumpuk di laci gelap.
Sahkan undang-undang perampasan,
biar tikus kantor kehilangan sarang,
biar negeri ini bernapas lebih lapang.

Polisi harus direformasi,
bukan wajah seram yang menakutkan anak,
melainkan pelindung yang tegas dan manusiawi.
Tentara harus kembali ke barak,
undang-undang diperbaiki,
agar bayonet tidak lagi menodai ruang sipil.

Perkuat Komnas HAM,
jadikan Ombudsman bukan sekadar nama,
tetapi mata yang melihat tajam
dan tangan yang berani menunjuk salah.

Tinjau ulang hukum ekonomi,
batalkan pasal-pasal yang mencabut akar rakyat,
periksa proyek yang menebang hutan
dan meluluhlantakkan sawah.

Semua itu—
terkumpul dalam tujuh belas tuntutan di jalan dan delapan nyala di cakrawala,
seperti tanggal di bulan kemerdekaan,
seperti janji yang dulu diteriakkan di bawah bendera merah-putih.

Namun, suara rakyat selalu diuji:
ada janji yang hanya sekadar tepuk tangan di rapat,
ada keputusan yang lahir setengah hati,
ada korban yang ditutup kabar.
Tetapi ingatlah,
di setiap luka yang ditorehkan pentungan,
lahir seribu suara baru
yang berlipat ganda dalam dada bangsa.

Rakyat bukan sekadar menuntut,
rakyat adalah matahari yang sabar,
yang akan terus terbit meski langit diliputi asap gas air mata.
Dan di bawah teriknya,
tujuh belas tuntutan di jalan dan delapan nyala di cakrawala
akan tetap bergaung,
hingga reformasi bukan sekadar kata,
melainkan rumah yang benar-benar berdiri
untuk semua penghuni tanah air.

Kediri, 5 September 2025

GETAR PECAH


Oleh: Mata Langit

Wajah yang pernah kusebut percaya,
rupanya rahasia kau jadikan dagangan murahan.
Janji di bibir hanyalah dekorasi,
yang runtuh saat diuji oleh kenyataan kecil.

Aku tak marah,
aku hanya mencatat.
Karena pengkhianatan yang tenang
lebih jelas daripada seribu permintaan maaf.

Dan dia—
suara yang membungkus diri,
nyaring, tinggi, penuh tepuk dada,
tapi di balik semua itu: hampa.

Semakin ia bicara, semakin ia telanjang,
semakin ia meninggi, semakin ia runtuh.
Tong kosong tak butuh musuh,
ia mengalahkan dirinya sendiri.

Kau menyerahkan namaku padanya,
seperti bidak yang kau lempar ke papan catur.
Tapi aku bukan pion yang bisa dipermainkan,
aku adalah tangan yang diam—
yang menutup permainan dengan sekali gerak.

Aku tak perlu menuding,
tak perlu menjelaskan.
Semakin kalian bicara,
semakin mudah kalian terbaca.

Kebenaran tak butuh teriakan,
ia berdiri sendiri, tegak,
sementara kalian sibuk menutupinya
dengan kebisingan yang melelahkan.

Kau pikir menguasai arena percakapan,
padahal hanya mengulangi suara kosongmu sendiri.
Aku memilih hening,
karena di dalam diam ada kuasa
yang tak bisa kau ganggu.

Lidahmu menari tanpa arah,
mencipta drama dari bayangan sendiri,
sementara aku duduk tenang,
membiarkanmu tenggelam
dalam kata-kata yang kau ciptakan.

Kau dan dia saling menopang dusta,
seperti dua tonggak rapuh di tanah longsor.
Berdiri sebentar untuk menipu mata,
lalu rubuh bersama, tak meninggalkan arti.

Aku belajar dari ini semua:
bahwa tidak semua sahabat pantas memegang rahasia,
tidak semua janji layak disimpan di dada,
dan tidak semua kepedulian harus diberi pada yang buta.

Maka biarlah aku jauh,
bukan karena kalah,
melainkan karena aku tak sudi
bermain dalam lingkaran kebisingan
yang tak ada makna.

Diamku bukan tunduk,
diamku adalah perhitungan.
Dan ketika waktunya tiba,
diam itu akan menjawab
lebih tajam daripada seribu perdebatan.

Dan ketika semua suara kalian habis,
yang tersisa hanyalah sepi.
Di dalam sepi itu,
nama kalian sendiri yang akan bergema.

Kediri, 10 September 2025

Rabu, 27 Agustus 2025

REPUBLIK DALAM KITAB HITAM

 

Oleh: Mata Langit


Di panggung republik berdebu,

tirai janji digantung pada paku berkarat.

Aktor-aktor berwajah seribu topeng

menyulam dusta dengan benang emas retorika.


Kami dipaksa minum obat tanpa resep,

dalam botol kaca berlabel “sejahtera”,

padahal isinya racun hutang mendidih,

dituang perlahan ke lambung rakyat yang pasrah.


Hukum menjelma ular berkepala dua:

satu menggigit tulang nelayan lapar,

satu lagi menjilati tangan penguasa

yang basah oleh madu korupsi.


Gedung-gedung tinggi menjulang,

bagai nisan raksasa di atas sawah yang punah,

sementara anak-anak mengeja abjad

di kelas bocor sebesar doa mereka.


Media menjadi cermin retak,

memantulkan wajah kuasa dengan cahaya palsu.

Berita disulam jadi kidung kemenangan,

padahal aromanya menyesaki paru-paru bangsa.


Kami dipaksa sehat di tubuh bernanah,

dandanan harum, isi dalamnya barah.

Negara menari di pesta sorot lampu,

sementara rakyat terperangkap gelap panjang.


Banjir turun seperti kutukan purba,

namun disebut berkah dalam mulut pejabat.

Gunung dikerat, sungai dibelenggu,

alam menuliskan sumpah di balik kabut.


Di kursi dewan, kata-kata diperdagangkan,

suara rakyat jadi mata uang palsu.

Tepuk tangan hanyalah gema kosong

dari mulut yang kehilangan hati.


Pendidikan menjelma etalase rapuh,

ijazah diperdagangkan di bawah meja.

Guru terhimpit gaji yang terengah,

anak didik terjerat ilusi angka.


Rumah sakit berdiri setinggi doa,

namun ranjangnya penuh jerit tak terbeli.

Perawat menyulam sabar dari luka,

bangsa terbaring dalam pasrah paksa.


Jalan-jalan dibangun secepat pidato,

namun lubangnya menelan langkah jelata.

Pita merah dipotong di altar kamera,

janji tetap tergantung pada tali putus.


Agama dijadikan panggung kedua,

mimbar menjelma pasar janji surgawi.

Tangan menengadah di sajadah emas,

sementara kaki menginjak tanah yatim.


Pasar rakyat menjadi altar kesedihan,

harga-harga naik bagai doa tak terkabul.

Ibu-ibu menakar lapar dengan air rebusan,

anak-anak tidur di pelukan kosong.


Kota menjelma karnaval neon,

iklan berteriak tentang kemakmuran.

Sementara pengemis berbaris panjang

menulis puisi lapar di trotoar sunyi.


Politik menjelma pesta topeng,

janji-janji ditukar bagai kartu murahan.

Suara rakyat hanyalah gema kosong

yang terkubur di bawah kursi kekuasaan.


Negeri ini menulis dirinya dengan tinta abu,

naskahnya panjang, babaknya tak berujung.

Aktor silih berganti dari balik tirai,

lakon tetap: sandiwara luka yang abadi.


Kediri, 14 Agustus 2025

KEYAKINAN YANG TERKUBUR DALAM RESITAL SUNYI

 

Oleh : Mata Langit


Aku datang padamu, seperti ziarah seorang musafir ke mata air, haus, rapuh, percaya beningmu menyalakan hidup yang nyaris padam.

Kau kusebut sahabat, kusebut kebenaran, cahaya di tepi malam berkabut.

Hatiku kutaruh di altar kata, seperti dupa pada dewa, yakin takkan dipatahkan.


Namun ternyata tanganku yang terulur hanya menyentuh udara.

Suaramu menjelma tembok yang memantulkan sunyi.

Kepercayaan itu retak bagai kaca jatuh dari menara:

pecah, hancur, mengiris jiwa yang semula percaya.


Apakah salah hatiku yang memilih percaya bisikan lembutmu?

Apakah salah cintaku, lahir dari dada yang sama?

Meski terbungkus tubuh sesama yang kau pandang ragu,

kau bungkam dengan dingin, seakan tak berdaya.


Ironi menari di sekelilingku, aku percaya pada pelita,

tapi kau menjadi malam yang memadamkan cahaya.

Aku percaya pada pelukan, tapi kau menjelma dinding beku.

Aku percaya pada kebenaran, tapi kau keraguan yang menyamar jadi baik.


Kau diam dan diam itu lebih bising daripada petir.

Kau menghindar dan tusukannya melebihi seribu pisau.

Kau meragukan dan keraguanmu menindih dada,

lebih berat dari gunung batu yang tak mampu kupikul.


Ah, kepercayaan… bagai kaca patri di katedral jiwa:

indah, berwarna, suci, menyalakan cahaya dari dalam.

Namun sekali retak, serpihannya jadi luka yang dalam;

bahkan sinar pun enggan menyentuhnya kembali.


Malam-malam panjang jadi saksi pengasinganku.

Aku berbicara dengan sunyi yang menolak diam.

Aku menyalakan lilin di ruang doa yang runtuh,

namun angin ragumu terus memadamkannya.


Kau sebut aku cinta, tapi kau sembunyikan aku,

seperti dosa yang tak layak berdiri di terang.

Kau jadikan aku rahasia yang kau sembah diam-diam,

namun kau buang aku di mazbah omongan manusia.


Tidakkah kau tahu, tubuh ini bukan cela?

Cintaku padamu bukan noda yang harus dibersihkan.

Namun kau jadikan aku luka yang disangkal,

dan darahku menetes di setiap penyangkalanmu.


Aku menunggu jawaban yang tak pernah tiba.

Setiap detik berubah jadi batu di dadaku.

Kau merantai bisikan yang mestinya lantang,

namun waktu pun lelah menunggumu setia.


Kini aku hanyalah bayangan yang kau tolak.

Jejakku terhapus oleh hujan yang kau undang.

Aku hanyalah nama yang kau kubur hidup-hidup

dalam tanah ketidakpastian yang tak berbunga.


Ratapan menjelma nisan, doa menjelma racun.

Kenangan jadi labirin panjang yang menyesakkan.

Aku pernah percaya, seperti laut percaya pada pantai,

seperti bulan percaya pada langit malam.


Tapi ternyata kau adalah karang yang melukai ombak.

Kau adalah awan yang menutup bulan sendu.

Maka biarlah aku menutup puisi ini—

dibunuh oleh tangan yang seharusnya menguatkan jiwa.


Dan di atas pusaranya biarlah ia berdiam.

Agar suatu hari kau membacanya lalu mengerti,

bahwa aku pernah percaya sepenuhnya,

namun percaya itu mati oleh sikap tak pernah menjawab.


Dan bila suatu hari kembali mencari,

jangan harap kau temui dengan pelukan yang sama.

Sebab aku telah jadi elegi yang selesai ditulis,

nyanyian duka yang tak lagi butuh pendengar.


Kediri, 22 Agustus 2025

Sirep Sang Rahsa Sukma


Oleh: Mata Langit


Ada yang hilang dari tubuhku,

seperti angin dicabut dari sayap,

seperti cahaya dipisahkan dari matahari,

tubuh ini tinggal daging yang bisu.


Kulit yang kosong, nama yang menggantung,

tanpa pemilik, tanpa penjelasan,

maka aku mencari di hutan kabut leluhur,

di sungai yang menyimpan gema seribu arwah.


Di cermin yang retaknya memantulkan wajah tanpa rupa,

kudengar bisikan para penunggu:

"Sukmo sing pisah, angel bali…",

sukma yang lepas tak mudah kembali.


Ia berjalan di jalan cahaya,

di mana waktu bukan hitungan,

di mana langkah bukan tapak,

di mana suara hanyalah gema.


Namun aku tidak gentar.

Dengan darahku kutulis mantra di tanah,

dengan air mataku kurendam doa di bara,

dengan napasku kubangun jembatan.


Antara tubuh yang menunggu dan sukmo yang terlunta,

di ambang rahasia yang rapuh dan samar.

"Sukmaku… bali marang papanmu.

Kawula nyuwun kawelasan."


"Nyuwun pituduh saka jagad wening.

Sukmo, aja nganti suwung,

aja nganti ilang ing pepeteng,

aja nganti ilang ing pepeteng."


Aku panggil engkau wahai sukmo,

yang pernah bernyanyi dalam dadaku,

yang pernah membuat mataku bercahaya,

yang memahat arti pada setiap denyut.


Kembalilah sebelum tubuh ini jadi guci pecah,

ditinggalkan waktu tanpa sisa,

sebelum nama ini jadi debu,

sebelum ingatan ini jadi batu tanpa cerita.


Aku ingat saat engkau meninggalkan,

di antara teriakan malam yang padat,

engkau melayang bagai kunang-kunang,

terjebak di pusaran gelap.


Aku berlari namun tubuhku tertinggal,

aku berteriak namun suaraku pecah,

pecah di dada sendiri,

pecah dalam sunyi yang menutupku.


Kini aku berdiri di persimpangan dunia,

antara doa dan kutukan,

antara tanah dan bintang,

antara hidup dan mati yang belum selesai.


Jika engkau dengar suaraku,

dengarkanlah dengan hati yang pernah kita bagi.

Jika engkau melihat bayangku,

tataplah dengan mata yang pernah menatap dunia.


Jika engkau masih mengenali darah ini,

maka masuklah kembali ke tubuh ini,

sebab tubuh ini hanya rumah yang roboh,

sebab tubuh ini hampa tanpamu.


"Sira sukmo, bali marang awakmu.

Sira sukmo, bali marang rahsa.

Ing jeneng cahya, ing jeneng jagad,

kula narik, kula nyuwun."


"Kula dados lawang pambuka,

kula dados pangeling dalan.

Sukmo, wangsulana panggilan iki,

bali marang rahim cahya sejati."


Wahai sukmo, aku persembahkan kata sebagai tali,

aku persembahkan luka sebagai jalan,

aku persembahkan seluruh hidupku sebagai pelita,

kembalilah, dan biarkan aku menjadi pintu terbuka.


Sebab aku tahu engkau bukan sekadar roh,

engkau adalah sejarah yang menyalakan langkahku,

engkau adalah nyala yang mengikat tubuh pada makna,

engkau adalah inti yang membuat dunia bernyawa.


Maka biarlah malam ini segala mantra jadi jembatan,

segala doa jadi sayap, segala luka jadi cahaya,

datanglah wahai sukmo, datanglah kembali,

sebelum dunia ini menutupku dengan sunyi abadi.


"Sukmo kawelasan, Sukmo pangruwating,

bali, bali, bali—

marang papan sejati,

marang pangkuan cahya sejati."


Narik Sukmo.

Mantra terakhir, panggilan pertama.

Sebuah perjalanan pulang,

dari ketiadaan menuju kehadiran.


Dari kehilangan menuju kesatuan,

dari sunyi menuju keutuhan,

dan jika engkau kembali,

maka aku pun lahir sekali lagi.


Kediri, 26 Juni 2025

RAMADHAN TANPA IBU

Aku memendamnya hingga hari-hari penuh berkah datang Semesta seakan berbisik agar hati menjadi lebih lapang Mencium aroma kurma yang menggod...